Selamat datang

Welcome to my blog ! Have a nice seeing ! Gbu :)

Selasa, 15 Juni 2010

UAS 2D Animation 2 "HALF"

video

Link script, character design, character chart, storyline, storyboard:
http://myunique-world.blogspot.com

Senin, 14 Juni 2010

KERIS Page 16 - 19






Baca dari bawah ke atas.

KERIS Page 11 - 15







Baca dari bawah ke atas.

Page 6 - 10







Baca dari kanan bawah ke kiri atas.

KERIS Page 1 - 5







Baca dari bawah ke atas

Team CSM

Fendy:
http://fendyproject.blogspot.com/2010/06/tugas-uas-comic-and-story-board-making.html

Annas
http://g4visual.wordpress.com

Satria
http://ahyesmylyric.blogspot.com

Yohanes
http://yohaneswilliam-dkva.blogspot.com

Character Chart & Character Design




Script KERIS

Page 1
Panel 1 : Lorong gelap yang sunyi [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Korban yang sedang ketakutan [ Medium Shoot ]
Panel 3 : Pelaku menusuk korban [ Close Up ]
Panel 4 : Pelaku membelakangi korban yang telah tertusuk [ Black Out ]

Page 2
Panel 1 : Bulan Purnama [ Low Angle View ]
Panel 2 : Korban berhadapan dengan pelaku [ Close Up ]
Panel 3 : wajah korban yang ketakutan [ Medium Shoot ]
Panel 4 : Cipratan darah [ Close Up ]

Page 3
Panel 1 : Buku laporan di atas meja [ High Angle View ]
Panel 2 : Teman-teman Ade menjawab pertanyaan Ade [ Medium Shoot ]
Panel 3 : Ade membaca laporan [ Medium Shoot ]

Page 4
Panel 1 : Ade yang menghefaskan asap rokok [ Extreme Close Up ]
Panel 2 : Buku Laporan yang di banting [ Medium Shoot ]
Panel 3 : Ade yang tampak kesal. [ Medium Shoot ]




Page 5
Panel 1 : Suasana pelelangan barang langka [ Long Shoot ]
Panel 2 : Pelelang menawarkan kesempatan terakhir [ Medium Shoot ]
Panel 3 : Wajah peserta lelang yang nampak kecewa [ Medium Shoot ]
Panel 4 : Pelelang memukulkan palu tanda sudah terjual [ Extreme Close Up ]

Page 6
Panel 1 : Adit yang tampak lega [ Close Up ]


Page 7
Panel 1 : Allia penasaran akan benda yang akan Adit tunjukkan [Medium Shoot – Full Body]
Panel 2 : Allia yang tampak tertarik melihat keris [ Long Shoot ]
Panel 3 : Allia mengancam Adit [ Medium Shoot ]

Page 8
Panel 1 : Adit menjelaskan keris kepada Allia [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Allia menjawab pernyataan Adit [ Close Up ]
Panel 3 : Allia bergurau [ Long Shoot ]
Panel 4 : Adit Shock [ Close Up ]
Panel 5 : Wajah Allia yang serius [ Extreme Close Up

Page 9
Panel 1 : Allia yang akan pulang dari rumah Adit [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Wajah Allia yang mengenakan Helm [ Close Up ]
Panel 3 : Jalanan [ Long Shoot ]
Panel 4 : Adit yang terdiam [ Extreme Close Up ]

Page 10
Panel 1 : Jalanan [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Adit yang sedang duduk [ Close Up ]
Panel 3 : Adit yang melihat keluar jendela [ Long Shoot ]
Panel 4 : Adit yang melihat keluar jendela dari sisi yang berbeda [ Close Up ]
Panel 5 : Wajah pelaku [ Extreme Close Up]

Page 11
Panel 1 : Wajah Adit [Extreme Close Up]
Panel 2 : Adiy yang kaget karena mati lampu [ Medium Shoot ]
Panel 3 : Pintu yang terbuka dengan sendirinya [ Medium Shoot ]
Panel 4 : Adit yang menoleh kebalakang [ Close Up ]

Page 12
Panel 1 : Adit yang membuka korden jendela [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Adit yang menuju ke pintu [ Medium Shoot ]
Panel 3 : Pintu tertutup [ Medium Shoot ]
Panel 4 : Pintu [ Medium Shoot ]
Panel 5 : Pintu dari sisi yang berbeda [ Medium Shoot]
Panel 6 : Pintu dari sisi yang berbeda [ Medium Shoot]


Page 13
Panel 1 : Pintu gudang [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Adit yang menuju lorong tersebut [ Medium Shoot ]
Panel 3 : Adit yang terheran [ Medium Shoot ]

Page 14
Panel 1 : Jam [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Adit yang terbangun [ MediumSchoot ]
Panel 3 : Wajah Adit yang terlihat kurang tidur [ Extreme Close Up ]
Panel 4 : Adit yang terlihat kurang tidur [ Medium Shoot ]

Page 15
Panel 1 : Tombol bel rumah yang ditekan [ Extreme Close Up]
Panel 2 : Adit yang membawa cangkir [ MediumSchoot ]
Panel 3 : Pintu [Low Angle Shoot]
Panel 4 : Adit yang berhadapan dengan Ade [ Medium Shoot ]

Page 16
Panel 1 : Adit yang berhadapan dengan Ade [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Adit yang terbangun [ MediumSchoot ]
Panel 3 : Wajah Adit yang terlihat kurang tidur [ Extreme Close Up ]
Panel 4 : Adit yang terlihat kurang tidur [ Medium Shoot ]

Page 17
Panel 1 : Adit yang terheran [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Ade yang menjelaskan [ MediumSchoot ]
Panel 3 : Mata Ade [ Extreme Close Up ]
Panel 4 : Mata Adit [ Extreme Close Up ]

Page 18
Panel 1 : Adit [ Medium Shoot ]
Panel 2 : Adit yang memegang dadanya [ MediumSchoot ]
Panel 3 : Mulut [ Extreme Close Up ]
Panel 4 : Mulut yang tersenyum [ Extreme Close Up ]

Page 19
Panel 1 : Adit yang bersemangat [ Medium Shoot ]

Jumat, 28 Mei 2010

UAS comic and storyboard making 2010 DKV Animasi '08

Berikut adalah storyline KERIS untuk tugas comic and storyboard making UMN'08:

Cerita ini adalah cerita lama yang diangkat ke atas karena suatu sebab yang sampai hari ini menjadi suatu misteri. Sebuah misteri yang akan mengubah segalanya menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Sesuatu yang akan mengubah dunia, mengubah hidup, dan mengubah takdir seseorang.
Derap langkah ketakutan dan kengerian merasuki jantung. Dua orang telah menjadi korban. Pelaku teror berdarah sekarang sedang menghampiri setiap orang yang sudah berada di dalam daftarnya.
Ade, seorang detektif, berkebangsaan Indonesia, mencapai ujung jalannya dalam hal kasus pembunuhan yang terus berlanjut. Pembunuhan yang telah ia selidiki hampir 10 tahun yang lalu, hampir menemukan titik terang. Sayangnya, pelaku berhasil melacak keberadaan polisi yang sedang berusaha menangkapnya. Usaha yang dilakukan Ade pun terbilang sia-sia.
Awalnya, tahun 1998, seorang arkeolog berkebangsaan Belanda, Ruud Van Wedjakerwick, menemukan sebuah situs kuno peninggalan kerajaan- kerajaan zaman dahulu. Kerajaan ini dikenal karena kejayaannya yang mahsyur sampai ke pelosok Asia besar. Kerajaan ini sangat berpengaruh pada sejarah dunia, Kerajaan Majapahit. Sebuah situs kuno yang menjadi incaran banyak arkeolog dunia yang mencari kedahsyatan sebuah benda kuno, yaitu keris Mpu Gandring. Situs ini terletak di daerah Malang, Jawa Timur. Keris ini terkenal karena cerita yang tersirat di dalamnya. Di samping itu, keris ini juga terkenal karena kutukannya: “Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok”.
Tahun 2002, ketika itu, sang arkeolog meninggal dunia dan Keris temuannya dilelang dalam pelelangan kelas atas. Adit, seorang kolektor muda, berusaha mendapatkan keris itu untuk melengkapi koleksinya. Ia berhasil melakukan pembelian tertinggi dalam pelelangan di salah satu tempat pelelangan terkemuka. Adit berhasil menawar Rp 3.000.000.000.
Tanggal 10 November 2004, Allia, guru privat sejarah Adit kagum akan Keris yang berhasil Adit dapatkan selama pelelangan berlangsung. Allia sangat menyukai misteri-misteri dan kejadian-kejadian aneh yang berasal dari benda purbakala. Allia sangat menyukainya sampai-sampai ia kenal sekali seluk beluk dunia Majapahit, termasuk keris buatan Mpu Gandring yang terkenal itu. Semua sejarah dan serba-serbinya, Allia berhasil membuat dirinya terkesima dengan keindahan mitos Keris Mpu Gandring.
Tanggal 1 Januari 2005, Adit mendapati kejadian-kejadian aneh yang muali terjadi di sekitarnya. Dimulai dari alarm mobil yang berbunyi dengan sendirinya di tengah malam, kaca jendela yang tiba-tiba pecah, gudang yang berserakkan, dan kejadian-kejadian alainnya. Ia mulai menyadari bahwa ada hal aneh yang terhjadi belakangan ini. Ia pikir untuk melibatkan polisi di dalamnya.
Ade, terpanggil untuk meneliti kejadian yang dialami Adit. Ade meneliti apa yang sedang Adit alami, dan pada kahirnya Ade berhasil menarik kesimpulan secara pasti bahwa sebenarnya bukanlah karena kutukan dari keris yang menyebabkan korban-korban pemilik sebelumnya terbunuh, tetapi ada oknum yang tidak dikenal yang sengaja melakukannya. Dan ia adalah seorang manusia. Ade pertama-tama curiga kepada bunyi-bunyian aneh pada malam hari di rumah Adit. Kedua, Ade curiga pada pecahan kaca yang terlihat seperti disengaja.
Ade mulai menemui sedikit titik terang pada kasusnya. Sayang, Adit ditemukan tewas setelah Ade melakukan penelitian selama 1 bulan, tepatnya tanggal 12 Februari jam 10:00. Adit terbujur kaku di atas sebuah ranjang disertai dengan memar bekas pukulan benda tumpul. Ade sedih akan hal itu, karena Aditlah satu-satunya saksi kunci. Keesokkan harinya, Allia, guru privat Adit dating menemui Ade dan meminta Keri situ untuk kenang-kenangan. Ade mendapatkan suatu ide utnuk sedikit memanfaatkan Allia sebagai umpan, apabila motif Ade benar maka pelaku dapat terungkap.
5 tahun kemudian, tidak terjadi sesuatu pun yang berarti dan Ade mulai putus asa dalam menyelesaikan kasusnya. Tanggal 20 Desember 2010, 5 hari sebelum Natal, Allia mulai mendapatkan sesuatu yang janggal dan ia merasakan bahwa ia sedang dibuntuti oleh seseorang. Segeralah, Allia sigap dan melaporkan kejadian itu pada Ade. Tanpa pandang bulu lagi, Ade memulai operasi rahasia untuk mengungkap pelaku sebenarnya. Ade sungguh bersemangat dengan harapan ia dapat membongkar siapa pelakunya. Selang beberapa hari, dalam suatu kejadian yang aneh, seseorang ditemukan tewas dengan Keris pada dadanya dan ada tulisan yang terbuat dari darahnya yang bertuliskan, “Aku adalah ia, mereka yang memegang Keris ini akan selamanya terkena kutukan. Tetapi pada bulan ini, Desember, kutukan itu telah berakhir dan aku telah menyudahinya”. Tanpa disangka itu sangat erat dengan hubungan korban-korban sebelumnya, yaitu mereka adalah keturunan dari Ken Arok, dan jumlah mereka adalah tujuh.

Story by: Joseph Chandra

Senin, 19 April 2010

Script “The Everlasting Shoulder”

Page 1
Panel 1 : Jalanan kota New York [ Long Shot – Medium Angle ]
Panel 2 : Gedung konser bertuliskan nama Randall [ Medium Angle – Close Up ]

Page 2
Panel 1 : Panggung konser Randall [ Long shot – High Angle ]

Page 3
Panel 1 : Partitur lagu Mozart, Liszt, dan Chopin [ Medium Shot – Close Up ]
Panel 2 : Randall mulai memainkan pianonya [ Medium Shot ]
Panel 3 : Tangan Randall yang cekatan [ Close Up – Medium Shot ]
Panel 4 : Tepuk tangan dari penonton (BG Black +suara) [ - ]
Panel 5 : Wajah puas Randall [ Close Up – Eye level ]

Page 4
Panel 1 : Randall membungkukkan badan [ Low Angle – Close Up ]
Panel 2 : Para penonton kagum dan menyanjungnya [ Long Shot – High Angle ]
Panel 3 : Para penonton yang keluar gedung konser [ Bird Eye – High Angle ]

Page 5
Panel 1 : Randall sedang menatap pianonya [ Close up – Medium Shot ]
Panel 2 : Tangan Randall memencet satu tuts piano [ Extreme close up (jari Randall) ]

Page 6
Panel 1 : Wajah Randall yang tampak senang [ Medium Shot – Medium Angle ]
Panel 2 : Tiba-tiba wajah Randall sedih [ Close up – Low Angle ]
Panel 3 : Randall meneteskan air mata [ Extreme close up to eye ]

Page 7
Panel 1 : Randall melihat orangtuanya bertengkar [ Eye level side view – Medium Angle ]
Panel 2 : Piring jatuh dan pecah [ Low Angle – Frog Eye View]

Page 8
Panel 1 : Randal dibawa ke panti asuhan [ High Angle – Over Shoulder View ]
Panel 2 : Orangtua Randall sedang bercakap-cakap [ Eye Level Side View ]

Page 9
Panel 1 : Randall sendirian di depan mall [ Medium Shot – Medium Angle ]
Panel 2 : Randal sendirian di depan rumahnya [ Medium Shot – Medium Angle ]

By : Joseph Chandra

Character Design and Character Chart






The Everlasting Shoulder

Aku adalah seorang pemain piano terkenal sekarang. Aku telah dapat memainkan Mozart, Chopin, dan Liszt dengan sangat baik. Aku dapat memainkan komposisi piano yang terbilang sulit, akhirnya. Aku sekarang dapat menikmati jari-jariku yang memainkan sebuah grand piano dengan sangat cekatan. Akhirnya…
Sebelumnya, aku adalah seorang anak yang lemah. Ayah dan Ibuku meninggalkan aku pada saat aku berumur 10 tahun di sebuah panti asuhan pinggiran kota New York, tanpa suatu alasan yang jelas. Aku terasing sebagai seorang anak kulit putih yang tinggal bersama dengan anak-anak kulit hitam. Aku selalu dilecehkan dan dianiaya layaknya seorang yang telah melakukan kejahatan pada orang lain. Aku selalu diejek karena akulah satu-satunya anak yang tidak dapat menulis huruf-huruf, bahkan untuk kata love saja, aku butuh waktu 10 menit untuk menuliskannya.
Namun, aku memiliki satu sahabat disana, namanya Reese. Ia anak seorang pemulung dari daerah Yorkshire, bagian selatan New York. Ia juga mengalami nasib yang hampir sama denganku, namun orang tuanya masih tetap menyayanginya dan mereka bekerja di luar sana untuk terus menghidupi anaknya. “Seandainya orang tuaku seperti mereka…”, pikirku. Kami selalu bermain bersama dan pergi ke Gereja bersama-sama. Kami saling melengkapi satu sama lain, sehingga kami sudah seperti layaknya saudara kandung sendiri.
Tanggal 10 Februari 1978, aku ingat kejadian itu ketika aku berumur 20 tahun. Reese mengajariku cara bermain music, dan aku suka ketika ia memainkan alat music piano. Dentunan nada yang indah, lagu-lagu yang menyentuh hati, serta alunan melodi yang hangat membuat aku untuk mencoba memainkannya. Ketika itu, Reese meminjamkan piano tuanya kepadaku dan tanpa pandang waktu lagi aku terus dan terus belajar pada Reese. Aku suka momen-momen seperti itu. Ia mengajariku banyak hal, termasuk ketika aku menghadapi persoalan.
Dua tahun setelah Reese mengajariku bermain piano, ia mengalami suatu penyakit yang aneh. Sekujur tubuhnya dipenuhi bentolan-bentolan berwarna merah disertai dengan nanah yang terus keluar dari bentolan-bentolannya. “Cepatlah sembuh teman dan ajari aku bermain piano kembal”, kataku pada Reese di rumah sakit. Ia menatapku dengan tatapan penuh emosi dan mengacungkan tangannya padaku sambil berkata, “buktikan bahwa kau menyayangi aku seperti saudara kandungmu sendiri dengan permainan pianomu”. Aku langsung tersentak dengan perkataannya.
Dan sejak saat itu, aku terus berlatih dan berlatih sampai aku dapat mempelajari semua jenis dan partitur lagu dengan sempurna. Aku berusaha mencari semua kaset, CD, dan partitur lagu di tempat pembuangan sampah, toko alat tulis bekas, dan berbagai tempat lainnya. Sampai pada akhirnya, permainanku dikenal oleh orang-orang. Tak beberapa lama aku diundang untuk menghadiri acara penganugerahan pemusik jalanan. Ketika itu aku sangat gembira dan langsung menghubungi Reese untuk melihat performaku untuk yang pertama kalinya. Tetapi ketika aku menelepon Reese bukan kabar baik yang aku terima, tetapi kabar yang sangat menyakitkan hatiku, membuat hatiku teriris menjadi berkeping-keping. Reese meninggal karena kehabisan hemoglobin dan dokter memintaku untuk mendampinginya dalam acara pemakamannya. Hancurlah hatiku, tetapi tekadku sudah bulat untuk bermain baginya. Aku rasa dia akan senang melihat aku bermain piano yang menjadi kebanggaannya.
Namaku Randall. Aku tinggal di kota New York, sendirian. Tanpa teman, tanpa saudara, dan tanpa orang tua yang dahulu hampir selalu menyemangati aku ketika aku jatuh dan gagal. Walaupun sampai dengan sekarang aku masih mendapat banyak hambatan untuk aku terus maju, aku masih mampu terus berdiri karena aku selalu teringat perkataan Reese, “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan dibawahmu ada lengan-lengan yang kekal.”

By: Joseph Chandra M / 08120210025

Rabu, 14 April 2010

HALF - midtest animation, duration 7 min



This new animation was made by Joseph, Indri, Fendy, Lita, and Satria.
Copyright @2010 MNU

Senin, 25 Januari 2010